Janji Setia

Delapan tahun yang lalu, ada seorang gadis bernama Elfi berasal dari kota Bagan Batu yang melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Jorlang Hataran, Tiga Balata. Elfi yang diantar oleh Mama dan kedua adiknya menuju kampung halaman hingga selesai pendaftaran sekolah berakhir, Elfi selalu ditemani sang Mama.
Malam telah berlalu. Mentari menyongsong pagi bersama angin sepoi-sepoi. Betapa cepat waktu itu, Pukul 09. 00 WIB berada di pelukan Mama yang hendak pulang ke rumahku nan jauh di sana. Tetesan demi tetesan air bening mengalir di dasar pipiku yang membasahi bahu Mamaku. Betapa berat untuk melepaskan dekapannya yang hangat penuh cinta kasih. Tapi, aku harus melepaskan pelukan itu dengan tulus supaya Mamaku pulang dengan hati gembira dan bertemu dengan sosok lelaki yang merindukan kehadirannya.
Beberapa hari, setelah kepulangan mama Elfi. Elfi mulai hari pertamanya bersekolah di sekolah baru yang tak ada seorang pun yang ia kenal, selain Kakak sepupunya. Hari pertama sekolah Elfi hanya diam dan diam dan perkenalan di depan kelas. Tetapi, setelah dua hari bersekolah berlangsung ada seorang anak perempuan yang menawarkan Elfi bermain bersamanya dan pergi membeli jajanan ke kantin tanpa mereka saling mengenal.
Beriringnya waktu, Elfi telah mengenal anak prempuan itu dan teman sekelasnya VII-I. Anak prempuan tersebut Desty teman semeja Elfi. Sejak perkenalan itu mereka semakin akrab dalam segala hal, mulai dari belajar bareng hingga saling mengejek satu sama lain. Bulan pertama sekolah berlalu, Elfi semakin mengenal banyak orang yang di antaranya Elisabeth, Erna, Rani, Sorta, dan sepupunya Tiur, tanpa diketahui rumah mereka berdekatan di dalam satu desa yang bernama Kasindir.
Setelah mereka mengetahui bahwa mereka satu desa, mereka semakin akrab dan semakin sering bersama ke mana pun hingga orang di sekitar mereka iri melihat. Pertemanan yang semakin erat di antara mereka, hingga mereka merasakan ada ikatan yang luar biasa melebihi dari yang namanya teman dan dari perasaan itu mereka saling berkata satu sama lain bahwa, “Kita adalah Sahabat Selamanya.”

Cerpen Karangan: Era Elfriana Sitanggang

Postingan populer dari blog ini

Boru Panggoaran (Anak perempuan pembawa nama orang tua)

Si Buruk Rupa